Makalah Manajemen Akuntansi - Just In Time
Kata
Pengantar
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah
tentang Konsep Just In Time ini dengan baik meskipun banyak
kekurangan didalamnya. Dan juga penulis berterima kasih pada Pak Faiq Husni, MM. selaku dosen mata kuliah Akuntansi Manajemen yang telah memberikan tugas ini
kepada penulis.
Penulis
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah penulis buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan penulis memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa depan.
Pekalongan, Desember 2021
Daftar Isi
C.
Tujuan
F.
Kritik Terhadap Just In Time
J.
Hubungan Just In Time dengan TQM
K.
Strategi Implementasi Konsep Just In Time
L.
Pembelian Dengan Konsep Just In Time
M.
Produksi Dengan Konsep Just In Time
O.
Mengenal Sistem Produksi Tepat Waktu (Just In Tiime System)
P.
Keuntungan Dan Kelemahan Sistem Just In Time
Q.
Perbandingan Sistem Just Intime Dengan Sistem Tradisional
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kemajuan teknologi yang
sangat pesat, pada perusahaan manufaktur mengakibatkan berkurangnya pemakaian
tenaga kerja langsung disatu sisi, namun disisi lain memerlukan pengeluaran
investasi yang relative besar untuk menggunakan peralatan modern. Karena
keterbatasan dana masih banyak perusahaan yang menggunakan prosedur yang
tradisional untuk menghadapi kemajuan teknologi itu sendiri. Namun masyarakat
di Negara maju seperti Jepang khususnya komunitas manufaktur mulai
mengembangkan suatu system yang disebut Just In Time, dimana sistem ini dilatar
belakangi oleh pemborosan- pemborosan tenaga kerja, ruangan dan waktu industri,
yang terjadi dikarenakan adanya persediaan (inventory) sehingga biaya produksi
menjadi lebih tinggi.
Keunggulan suatu
perusahaan terhadap para pesaingnya ditentukan oleh faktor-faktor yaitu
waktu, mutu, biaya dan sumber daya manusia. Waktu merupakan salah satu faktor
penentu unggulan daya saing. Jika suatu perusahaan ingin unggul dari faktor
waktu maka perusahaan harus dapat melayani permintaan konsumen tepat waktu,
mengeliminasi atau mengurangi waktu untuk aktivitas yang tidak bernilai tambah,
dan mengefisiensikan waktu untuk aktivitas bernilai tambah. Salah satu alat
agar perusahaan mempunyai keunggulan dari segi faktor waktu adalah dengan
mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep JIT.
Operasi JIT merupakan suatu pendekatan untuk
mengidentifikasi dan mengeliminasi segala macam sumber pemborosan dalam
aktivitas produksi, dengan memberikan komponen produksi yang tepat serta pada
waktu dan tempat yang tepat. Operasi JIT memproduksi komponen produksi tepat pada
waktu memenuhi kebutuhan produksi, sedangkan Operasi Tradisional memproduksi
komponen produksi dalam jumlah besar dengan maksud untuk mengantisipasi kalau-
kalau terjadi sesuatu.
.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan
Just In Time?
2.
Apa prinsip dasar Just In
Time?
3.
Apa saja kritik terhadap
Just In Time?
- Apa manfaat Just In Time?
- Bagaimana persyaratan Just In Time?
- Bagaimana perumusan Just In Time?
- Apa hubungan Just In Time dengan Total Quality
Management?
- Bagaimana strategi implementasi Just In Time?
- Apa keuntungan pembelian dengan konsep Just In
Time?
- Apa keuntungan produksi dengan konsep Just In
Time?
- Apa persediaan Just In Time?
- Apa saja sistem Just In Time?
- Apa keuntungan dan kelemahan Just In Time?
- Apa perbandingan sistem JIT dengan sistem tradisional?
- Bagaimana perhitungan MCE
C. Tujuan
1.
Mengetahui
hal yang membatalkan puasa. Mengetahui tentang definisi Just In Time.
2.
Mengetahui
tentang prinsip dasar Just In Time.
3.
Mengetahui
tentang kritik terhadap Just In Time.
4.
Mengetahui
tentang manfaat Just In Time.
5.
Mengetahui
tentang persyaratan Just In Time.
6.
Mengetahui
tentang perumusan Just In Time.
7.
Mengetahui
tentang hubungan Just In Time dengan Total Quality Management.
8.
Mengetahui
tentang strategi implementasi Just In Time.
9.
Mengetahui
tentang keuntungan pembelian dengan konsep Just In Time.
10. Mengetahui tentang
keuntungan produksi dengan konsep Just In Time.
11. Mengetahui tentang
persediaan Just In Time.
12. Mengetahui tentang sistem
Just In Time.
13. Mengetahui tentang
keuntungan dan kelemahan Just In Time.
14. Mengetahui tentang
perbandingan sistem JIT dengan sistem tradisional.
15.
Mengetahui
tentang perhitungan MCE.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Just In Time
Just In Time (JIT)
merupakan integrasi dari serangkaian aktivitas desain untuk mencapai produksi
volume tinggi dengan menggunakan minimum persediaan untuk bahan baku, WIP, dan
produk jadi. Konsep dasar dari sistem produksi JIT adalah memproduksi produk
yang diperlukan, pada waktu dibutuhkan oleh pelanggan, dalam jumlah sesuai
kebutuhan pelanggan, pada setiap tahap proses dalam sistem produksi dengan cara
yang paling ekonomis atau paling efisien melalui eliminasi pemborosan (waste
elimination) dan perbaikan terus – menerus (contionous process
improvement).
Dalam system Just In Time
(JIT), aliran kerja dikendalikan oleh operasi berikut, dimana setiap stasiun
kerja (work station) menarik output dari stasiun kerja sebelumnya sesuai dengan
kebutuhan. Berdasarkan kenyataan ini, sering kali JIT disebut sebagai Pull
System (system tarik). Dalam system JIT, hanya final assembly line yang
menerima jadwalproduksi, sedangkan semua stasiun kerja yang lain dan pemasok
(supplier) menerima pesanan produksi dari subkuens operasi berikutnya. Dengan
kata lain, stasiun kerja sebelumya (stasiun kerja 1 ) menerima pesananproduksi
dari stasiun kerja berikutnya (stasiun kerja 2 ), kemudian memasok produk itu
sesuai kuantitas kebutuhan pada waktu yang tepatdengan spesifiksai yang tepat
pula. Dalam kasus seperti ini, stasiun kerja 2sering disebut sebagai stasiun
kerja pengguna (using work station). Apabila stasiun kerja pengguna itu
menghentikan produksi untuk suatu waktu tertentu, secara otomatis satisun kerja
pemasok (supplying wotk station) akan berhenti memasok produk, karena tidak
menerima pesanan produksi.
Dalam pengertian luas, JIT adalah suatu
filosofi tepat waktu yang memusatkan pada aktivitas yang diperlukan oleh
segmen-segmen internal lainnya dalam suatu organisasi.
JIT mempunyai empat aspek pokok sebagai berikut:
- Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah
terhadap produk atau jasa harus di eliminasi.Aktivitas yang tidak bernilai
tambah meningkatkan biaya yang tidak perlu,misalnya persediaan sedapat
mungkin nol.
- Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu
yang lebih tinggi. Sehingga produk rusak dan cacat sedapat mungkin
nol,tidak memerlukan waktu dan biaya untuk pengerjaan kembali produk
cacat, dan kepuasan pembeli dapat meningkat.
- Selalu diupayakan penyempurnaan yang
berkesinambungan (Continuous Improvement)dalam meningkatkan efisiensi
kegiatan.
- Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan
meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah.
JIT dapat diterapkan dalam berbagai bidang fungsional
perusahaan seperti misalnya pembelian, produksi, distribusi, administrasi dan
sebagainya.
Konsep Just In Time (JIT) adalah sistem manajemen fabrikasi modern yang
dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan terbaik yang ada di Jepang, sejak awal
tahun 1970an, JIT pertama kali dikembangkan dan disempurnakan di pabrik Toyota
Manufacturing oleh Taiichi Ohno, oleh karena itu Taiichi Ohno sering disebut
sebagai bapak JIT, Konsep JIT berprinsip hanya memproduksi jenis-jenis
barang yang diminta (what) sejumlah yang diperlukan (How much) dan pada saat
dibutuhkan (When) oleh konsumen.
Just In Time (JIT) merupakan keseluruhan
filosofi dalam operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk
bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai
sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan
mengurangi pemborosan.
Fujio Cho dari Toyota mendefinisikan pemborosan
(waste) sebagai: Segala sesuatu yang berlebih, di luar kebutuhan minimum
atas peralatan, bahan, komponen, tempat, dan waktu kerja yang mutlak diperlukan
untuk proses nilai tambah suatu produk.
Dalam bahasa sederhanya pengertian pemborosan adalah segala
sesuatu tidak memberi nilai tambah itulah pemborosan.
Ada 7 (tujuh) jenis pemborosan disebabkan karena :
- Over produksi ( OverProduction )
- Waktu menunggu ( Waiting )
- Transportasi ( Transportation )
- Pemrosesan ( Process production )
- Tingkat persediaan barang (
Unnecessary Inventory )
- Gerak ( Unnecessary Motion )
- Cacat produksi ( Defects )
Sasaran utama JIT adalah menngkatkan produktivitas system
produksi atau opersi dengan cara nenghilangkan semua macam kegiatan yang tidak
menembah nilai bagi suatu produk.
Just in Time (JIT) mendasarkan pada delapan
kunci utama, yaitu
:
- Menghasilkan produk yang sesuai dengan jadwal
yang didasarkan pada permintaan.
- Memproduksi dengan jumlah kecil
- Menghilangkan pemborodan
- Memperbaiki aliran produksi
- Menyempurnakan kualitas produk
- Orang-orang yang tanggap
- Menghilangkan ketidakpastian
- Penekananan pada pemeliharaan jangka panjang.
Dalam pelaksanaan konsep JIT terdapat empat hal pokok yang harus
dipenuhi :pertama, Produksi Just In Time (JIT), adalah memproduksi
apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang
diperlukan. kedua, Autonomasi merupakan suatu unit
pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir
ke proses berikutnya. ketiga, Tenaga kerja fleksibel,
maksudnya adalah mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan fluktuasi
permintaan. keempat, Berpikir kreatif, inovatif serta selalu
menerima masukan atau saran dari karyawan
Untuk mencapai empat konsep tersebut perlu diterapkan sistem dan
metode sebagai berikut :
- Sistem kanban untuk mempertahankan
produksi Just In Time (JIT).
- Metode kelancaran dan kecepatan produksi untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan.
- Optimalisasi waktu penyiapan untuk mengurangi
waktu pesanan produksi.
- Tata letak proses dan pekerja fungsi ganda
untuk konsep tenaga kerja yang fleksibel.
- Aktifitas perbaikan lewat kelompok kecil
(small group) dan sistem saran untuk meningkatkan skills
tenaga kerja.
- Sistem manajemen fungsional untuk
mempromosikan pengendalian mutu ke seluruh bagian perusahaan
Sedangkan elemen-elemen Just In Time (JIT) adalah :
- Pengurangan waktu set up
- Aliran produksi lancar (layout)
- Produksi tanpa kerusakan mesin
- Produksi tanpa cacat
- Peranan dan support operator produksi
- Hubungan yang harmonis dengan pemasok
- Penjadwalan produksi yang stabil dan
terkendali
- Sistem Kanban
B. Prinsip
Dasar Just In Time
Untuk mengaplikasikan metode JIT maka ada delapan prinsip yang harus dijadikan
dasar pertimbangan di dalam menentukan strategi sistem produksi, yaitu:
- Berproduksi sesuai dengan pesanan Jadual
Produksi Induk
Sistem manufaktur baru akan dioperasikan untuk menghasilkan produk
menunggu setelah diperoleh kepastian adanya order dalam jumlah tertentu masuk.
Tujuan utamanya untuk memproduksi finished goods tepat waktu dan sebatas pada
jumlah yang ingin dikonsumsikan saja (Just in Time), untuk itu proses produksi
akan menghasilkan sebanyak yang diperlukan dan secepatnya dikirim ke pelanggan
yang memerlukan untuk menghindari terjadinya stock serta untuk menekan biaya
penyimpanan (holding cost).
- Produksi dilakukan dalam jumlah lot (Lot Size)
Yang kecil untuk menghindari perencanaan dan lead time yang kompleks
seperti halnya dalam produksi jumlah besar. Fleksibilitas aktivitas produksi
akan bisa dilakukan, karena hal tersebut memudahkan untuk melakukan
penyesuaian-penyesuaian dalam rencana produksi terutama menghadapi perubahan
permintaan pasar.
- Mengurangi pemborosan (Eliminate Waste)
Pemborosan (waste) harus dieliminasi dalam setiap area operasi yang ada.
Semua pemakaian sumber-sumber input (material, energi, jam kerja mesin atau
orang, dan lain-lain) tidak boleh melebihi batas minimal yang diperlukan untuk
mencapai target produksi.
- Perbaikan aliran produk secara terus menerus
(Continous Product Flow Improvement) Tujuan pokoknya adalah
menghilangkan proses-proses yang menimbulkan bottleneck dan semua kondisi yang
tidak produktif (idle, delay, material handling, dan lain-lain) yang bisa
menghambat kelancaran aliran produksi.
- Penyempurnaan kualitas produk (Product Quality
Perfection)
Kualitas produk merupakan tujuan dari aplikasi Just in Time dalam sistem
produksi. Disini selalu diupayakan untuk mencapai kondisi “Zero Defect” dengan
cara melakukan pengendalian secara total dalam setiap langkah proses yang ada.
Segala bentuk penyimpangan haruslah bisa diidentifikasikan dan dikoreksi sedini
mungkin.
- Respek terhadap semua orang/karyawan (Respect
to People)
Dengan metode Just in Time dalam sistem produksi setiap pekerja akan
diberi kesempatan dan otoritas penuh untuk mengatur dan mengambil keputusan
apakah suatu aliran operasi bisa diteruskan atau harus dihentikan karena
dijumpai adanya masalah serius dalam satu stasiun kerja tertentu.
- Mengurangi segala bentuk ketidak pastian (Seek
to Eliminate Contigencies)
Inventori yang ide dasarnya diharapkan bisa mengantisipasi demand yang
berfluktuasi dan segala kondisi yang tidak terduga, justru akan berubah menjadi
waste bilamana tidak segera digunakan. Begitu pula rekruitmen tenaga kerja
dalam jumlah besar secara tidak terkendali seperti halnya yang umum dijumpai
dalam aktivitas proyek akan menyebabkan terjadinya pemborosan bilamana tidak
dimanfaatkan pada waktunya. Oleh karena itu dalam perencanaan dan penjadualan
produksi harus bisa dibuat dan dikendalikan secara teliti. Segala bentuk yang
memberi kesan ketidakpastian harus bisa dieliminir dan harus sudah dimasukkan
dalam pertimbangan dan formulasi model peramalannya.
Ketujuh prinsip pelaksanaan Just in Time dalam sistem produksi di atas
bukanlah suatu komitmen perusahaan yang diaplikasikan dalam jangka waktu
pendek, melainkan harus dibangun secara berkelanjutan dan merupakan komitmen
semua pihak dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, ada kemungkinan aplikasi
Just in Time dalam sistem produksi justru akan menambah biaya produksi
mengikuti konsekuensi proses terbentuknya kurva belajar.
Selain prinsip dasar just in time, berikut adalah urutan penerapan
teknik just in time:
- Menerapkan 5S – dasar untuk perbaikan: Dasar
perbaikan ditempat kerja adalah konsep 5S yang terdiri dari Seiri
(Pemilihan), Seiton (Penataan), Seiso (Pembersihan), Seiketsu
(Pemantapan), dan Shitsuke (Kebiasaan).
- Penerapan produksi satu potong untuk mencapai
pengimbangan lini.
- Pelaksanaan produksi ukuran lot kecil dan
perbaikan metode penyiapan.
- Penerapan operasi baku.
- Produksi lancer dengan merakit produk sesuai
dengan kecepatan penjualan
- Autonomasi (“jidoka”)
- Penggunaan kartu kanban.
C. Kritik
Terhadap Just In Time
Kritik terhadap JIT antara lain :
- Sulit suatu perusahaan yang memproduksi secara
massal hanya melayani pesanan pelanggan saja, misalnya pabrik gula, kopi,
sabun dan sebagainya, dan hanya memproduksi satu jenis produk.
- Dalam industri sulit sekali suatu tidak
memiliki persediaan, khususnya yang bahan bakunya impor.
- Sulit dilakukan oleh pabrik-pabrik pada
umumnya yang hanya memproduksi satu macam komoditi dengan teknologi
khusus.
- Menempatkan karyawan pada keahlian khusus pada
satu jenis produk tidak mudah, dan mungkin biayanya mahal.
- Pada umumnya perusahaan disibukkan oleh
kegiatan rutin memproduksi komoditi terus menerus tanpa menghiraukan
peningkatan ketrampilan dan pengetahuan karyawan; mereka lebih suka
membajak karyawan lain yang sudah ahli sehingga tidak perlu mendidik dan
melatih; teknologi dan metode kerja tidak begitu mudah diganti.
- Karyawan pada umumnya bekerja atas dasar upah;
mereka bekerja bukan ingin merealisasikan bakat dan pengetahuannya tetapi
mencari upah, jadi mereka pada umumnya kurang peduli terhadap mutu produk.
D. Manfaat
Just In Time
Waktu
set-up gudang dapat dikurangi. Mengatur waktu secara signifikan berkurang dalam
gudang yang akan memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan bottom line mereka
untuk melihat lebih banyak waktu efisien dan fokus menghabiskan di daerah
lain.Aliran barang dari gudang ke produksi akan meningkat. Beberapa pekerja
akan fokus pada daerah pekerjaannya untuk bekerja secara cepat. Arus
barang dari gudang ke rak ditingkatkan. Memiliki karyawan difokuskan pada
area-area tertentu dari sistem akan memungkinkan mereka untuk proses barang
lebih cepat daripada harus mereka rentan terhadap kelelahan dari melakukan
terlalu banyak pekerjaan sekaligus dan menyederhanakan tugas-tugas di tangan.
Pekerja
yang menguasai berbagai keahlian digunakan secara lebih efisien. Karyawan
yang memiliki multi-keterampilan yang digunakan lebih efisien. Hal ini akan
memungkinkan perusahaan untuk menggunakan pekerja dalam situasi di mana mereka
dibutuhkan bila ada kekurangan pekerja dan permintaan yang tinggi untuk produk
tertentu.
Penjadwalan
produk dan jam kerja karyawan akan lebih konsisten. Konsistensi yang lebih baik
dari penjadwalan dan konsistensi dari jam kerja karyawan yang mungkin. Hal ini
dapat menghemat uang perusahaan dengan tidak harus membayar pekerja untuk
pekerjaan tidak selesai atau bisa minta mereka fokus pada pekerjaan lain di
sekitar gudang yang belum tentu dilakukan pada hari normal.
Adanya
peningkatan hubungan dengan suplyer. Peningkatan penekanan pada hubungan
pemasok / suplyer dicapai. Tidak ada perusahaan yang ingin istirahat dalam
sistem persediaan mereka yang akan menciptakan kekurangan pasokan sementara
tidak memiliki persediaan duduk di rak-rak. Persediaan terus sekitar jam
menjaga pekerja produktif dan bisnis terfokus pada omset. Memiliki manajemen
berfokus pada pertemuan tenggat waktu akan membuat karyawan bekerja keras untuk
memenuhi tujuan perusahaan untuk melihat manfaat dalam hal kepuasan kerja,
promosi atau lebih tinggi bahkan membayar.
Perputaran
Persediaan. Kecepatan dengan perputaran terjadi melibatkan sumber daya
perusahaan cair: tunai, akan ada peningkatan laba bersih. Semakin pendek selang
waktu antara penerimaan bahan baku dan penggabungan dari mereka dalam proses
manufaktur, semakin besar profitabilitas. Filosofi persediaan diputar pada
merancang sistem persediaan yang sempurna memadukan dasar-dasar meminimalkan
biaya dan memaksimalkan keuntungan. Fundamental ini adalah laki-laki, material
dan mesin sering disebut 3ms operasi manufaktur atau persediaan, jika hasil
seimbang baik dalam filsafat JIT bisa diterapkan.
Kecerdasan, lebih relevan berguna bahwa manajer keuangan di ujung jari mereka
tentang bisnis mereka, pelanggan, pemasok atau mitra dan operasi mereka akan
memotivasi organisasi mereka untuk membuat keputusan yang lebih baik dan
meningkatkan keunggulan kompetitif mereka dengan menerapkan konsep JIT ke
persediaan atau manufaktur . JIT merupakan suatu konsep yang dapat diterapkan
pada banyak aspek dari bisnis selain persediaan atau manufaktur.
Sebagai alat inventaris, dapat diawasi oleh manajer keuangan untuk memonitor
biaya dalam rantai nilai. JIT merupakan paradigma baru dari strategi bisnis
bergeser dari manajemen persediaan tradisional ke manajemen rantai pasokan
berbasis web yang meningkatkan perputaran persediaan dan mengurangi memegang
persediaan.
E. Persyaratan
Just In Time
Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam
penerapan JIT:
- Organisasi Pabrik: Pabrik dengan sisitem JIT
berusaha untuk mengatur layout berdasarkan produk. Semua proses yang
diperlukan untuk membuat produk tertentu diletakkan dalam satu lokasi.
- Pelatihan/Tim/keterampilan: JIT memerlukan
tambahan pelatihan yang lebih banyak bila dibandingkan dengan system
tradisional. Karyawan diberi pelatihan mengenai bagaimana menghadapi
perubahanyang dilakukan dari system tradisional dan bagaimana cara kerja
JIT yaitu:
- Membentuk Aliran/Penyederhanaan: Idealnya
suatu lini produksi yang baru dapat di setup sebagai batu ujian untuk
membentuk aliran produksi, menyeimbangkan aliran tersebut, dan memecahkan
masalah awal.
- Kanbal Pull System: Kanbal merupakan system
manajemen suatu pengendalian perusahaan, karena itu kanbal memiliki
beberapa aturan yang perlu diperhatikan.
- Jangan mengirim produk rusak ke prosess
berikutnya.
- Proses berikutnya hanya mengambil apa yang
dibutuhkan pada saat dibutuhkan.
- Memproduksi hanya sejumlah proses berikutnya.
- Meratakan beban produksi.
- Menaati instruktur kanban pada saat fine
tuning.
- Melakukan stabilisasi dan rasionalisasi
proses.
- Visibiltas/ pengendalian visual: Salah satu
kekuatan JIT adalah sistemnya yang merupakan system visual. Melacaknya apa
yang terjadi dalam system tradisional sulit dilakukan karena para karyawan
mondar-mandir mengurus kelebihan barang dalam prosess dan banyak rute
produksi yang saling bersilangan.
- Eliminasi Kemacetan: Untuk menghapus kemcetan,
baik dalam fase setup maupun dalam masa produksi, perlu dilakukan beberapa
pendekatan yang melibatkan tim fungsi silang. Tim ini terdiri dari
berabagi departemen, seperti perekayasaan, manufaktur, keuangan dan
departemen lainnya yang relevan.
- Ukuran Lot Kecil Dan Pengurangan Waktu Setup:
Ukuran lot yang ideal bukan ukuran yang terbesar, tetapi ukuran lot yang
terkecil. Pendekatan ini pendekatan ini esuai bila nesin-mesin digunakan
untuk menghasilkan berbagai bagian atau komponen yang berbeda yang
digunakan proses berikutnya dalam tahap produksi.
- Total Productive Maintance: TPM merupakan
suatu keharusan dalam sisitem JIT. Mesi-mesin membersihkan dan diberi
pelumas secara rutin, biasanya dilakukan oleh operator yang menjalankan
mesin tersebut.
- Kemampuan Proses, Statistical Proses Control
(SPC), Dan Perbaikan Berkesinambungan.
Kemampuan proses, SPC, dan perbaikan berkesinambungan harus
ada dalam pemanufakturan JIT, karena beberapa hal: Pertama, segala sesuatu
harus bekerja sesuai dengan harapan dan mendekati sempurna. Kedua, dalam JIt
tidak ada bahan cadangan untuk kemacetan perusahaan dan Ketiga, semua kondisi
mesin harus bekerja dengan prima.
F. Perumusan
Just In Time
Salah satu metode untuk mengendalikan
persediaan yang modern adalah metode Just In Time atau bisa
disebut juga JIT. Metode ini bertujuan untuk meminimalkan biaya persediaan
karena menggunakan metode JIT setiap pemesanan dari konsumen akan langsung di
produksi. Dalam JIT diusahakan persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat
yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan menjadi tidak relevan
untuk tujuan pelaporan keuangan.
Rumusan JIT yang digunakan adalah:
X1 = (I+F1+X2V2) / (P-V1)
Dimana:
X1 : Unit
produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu.
I : Laba sebelum pajak
penghasilan
F1 : Total
biaya tetap
X2 : Jumlah
kuantitas berbasis nonunit
V2 : Biaya
variable berbasis nonunit
P : Harga jual perunit
V1 : Biaya
variable perunit
G. Hubungan
Just In Time dengan TQM
Untuk mengimplementasikan JIT diperlukan
adanya sistem total quality secara keseluruhan dalam organisasi. JIT
mensyaratkan semua departemen dapat menanggapi kebutuhan-kebutuhannya. Apabila
departemen produksi melaksanakan JIT, tetapi organisasi secara keseluruhan
tidak mengupayakan TQM, maka personil departemen produksi akan menghadapi
hambatan yang besar. Selain itu JIT juga mensyaratkan perubahan, sehingga
sering kali timbul penolakan dari departemen uang memiliki komitmen untuk berubah.
Kaizen atau perbaikan secara terus menerus selalu beriringan dengan Total
Quality Management (TQM).
Bahkan sebelum filosofi TQM ini terlaksana atau
sebelum sistem mutu dapat dilaksanakan dalam suatu perusahaan maka filosofi ini
tidak akan dapat dilaksanakan sehingga perbaikan secara terus menerus (Kaizen)
ini adalah usaha yang melekat pada filosofi TQM itu sendiri. Sehingga Kaizen
bisa juga merupakan suatu kesatuan pandangan yang komprehensif dan
terintegrasi.
Kaizen adalah suatu istilah dalam bahasa jepang yang dapat
diartikan sebagai perbaikan secara terus menerus (countinius improvement).
Kaizen nerupakan suatu kesatuan pandangan yang komperhensif dan terintegrasi
yang meliputi:
- Berorientasi pada pelanggan.
- Pengendalian mutu secara menyeluruh
- Robotic
- Gugus kendali mutu
- Sistem saran
- Otomatisasi
- Disiplin di temapt kerja
- Pemeliharaan produktivitas secara menyeluruh
- Kanban
- Penyempurnaan perbaikan mutu, tepat waktu
tanpa cacat
- Kegiatan kelompok-kelompok kecil hubungan
kerja sama dengan manajer dan karyawan
- Pengembangan produk baru
Kaizen mempunyai semangat mengadakan
perbaikan secara terus-menerus dan berkesinambungan dengan berpedoman pada
semangat, hari ini harus lebih dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik
dari hari ini, tidak boleh ada hari tanpa ada perbaikan. Adapun hirarki dalam
kaizen adalah:
- Manajemen Puncak Manajemen Madya Supervisor
Karyawan
- Mengkomunikasikan kaizen sebagai strategi
perusahaan
- Menyebarluakan dan mengimplementasikan
sasaran kaizen sesuai penghargaan manajemen puncak melalui
menyebarluaskan kebijakan
- Menggunakan kaizen dalam peranan fungsi
- Melibatkan diri dalam sistem sasaran dan
aktivitas kelompok kecil
H. Strategi
Implementasi Konsep Just In Time
Ada beberapa strategi dalam mengimplementasikan JIT dalam perusahaan,
antara lain:
- Startegi Penerapan pembelian Just in Time.
Dukungan, yaitu dari semua pihak terutama yang berkaitan dengan kegiatan
pembelian, dan khususnya dukungan dari pimpinan. Tanpa ada komitmen dari
pinpinan tersebut JIt tidak dapat terlaksana. Mengubah sistem, yaitu
mengubah cara mengadakan pembelian, yaitu dengan membuat kontrak jangka
panjang dengan pemasok sehingga perusahaan cukup hanya memesan sekali
untuk jangka panjang, selanjutnya barang akan dating sesuai kebutuhan atau
proses produksi perubahan kita.
- Startegi penerapan Just in Time dalam sistem
produksi. Penemuan sistem produksi yang tepat, yaitu dengan sistem tarik
yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan dengan
menghilangkan sebanyak mungkin pemborosan. Penemuan lini produksi yaitu
dalam satu lini produksi harus dibuat bermacam-macam barang, sehingga
semua kebutuhanpelanggan yang berbeda-beda itu dapat terpenuhi. Selain itu
lini produksi tersebut dapat menghemat biaya, biaya bahan, persediaan, dan
sebagainya. JIT bukan hanya sekedar metode pengedalian persediaan, tetapi
juga merupakan sistem produksi system produksi yang saling berkaitan
dengan semua fungsi dan aktivitas.
I. Pembelian
Dengan Konsep Just In Time
Pembelian dengan Konsep JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang
dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk
memenuhi permintaan atau penggunaan. Pembelian JIT dapat mengurangi waktu dan
biaya yang berhubungan dengan aktivitas pembelian dengan cara:
- Mengurangi jumlah pemasok sehingga perusahaan
dapat mengurangi sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi dengan
pamasoknya.
- Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya
negosiasi dengan pemasok.
- Memiliki pembeli atau pelanggan dengan program
pembelian yang mapan.
- Mengeliminasi atau mengurangi kegiatan dan
biaya yang tidak bernilai tambah.
- Mengurangi waktu dan biaya untuk
program-program pemeriksaan mutu.
Penerapan pembelian JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi
biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
- Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat
ditingkatkan.
- Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk
mengumpulkan biaya.
- Mengubah dasar yang digunakan untuk
mengalokasikan biaya sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah
menjadi biaya langsung.
- Mengurangi perhitungan dan penyajian informasi
mengenai selisih harga beli secara individual
- Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan
sistem akuntansi.
J. Produksi
Dengan Konsep Just In Time
Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau
produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh
tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan cara:
- Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses
dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk
(konsep persediaan nol).
- Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu
tunggu) produksi (konsep waktu tunggu nol).
- Secara berkesinambungan berusaha
sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap
tahapan pengolahan produk (workstation).
- Menekankan pada penyederhanaan pengolahan
produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat
dieliminasi.
Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi
dalam bidang:
- Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan
- Persediaan bahan, barang dalam proses, dan
produk selesai
- Waktu perpindahan
- Tenaga kerja langsung dan tidak langsung
- Ruangan pabrik
- Biaya mutu
- Pembelian bahan
Penerapan produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi
biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:
- Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat
ditingkatkan.
- Mengeliminasi atau mengurangi kelompok biaya
(cost pools) untuk aktivitas tidak langsung.
- Mengurangi frekuensi perhitungan dan pelaporan
informasi selisih biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara
individual.
- Mengurangi keterincian informasi yang dicatat
dalam “work tickets”.
K. Persediaan
Just In Time
Just In Time didasarkan pada konsep arus
produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi
bekerja sama dengan komponen-komponen lainnya. Tenaga kerja langsung dalam
lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang
berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu
produksi.
Perusahaan-perusahaan pabrikasi
menyimpan tiga jenis persediaan: bahan baku, barang dalam proses, dan barang
jadi. Persediaan-persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga
sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun
para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen
tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal lainnya. Persediaan-persediaan
ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga sehingga kegiatan-kegiatan
perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun para pemasok terlambat
melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen tidak mampu beroperasi
selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal lainnya. Namun penyimpanan
persediaan-persediaan itu sudah barang tentu memakan biaya besar. Sistem Just
In Time merupakan upaya untuk mengurangi atau menghilangkan persedian.
Perusahaan yang mengadopsi
system Just In Time ke proses produksinya mestilah merancang kembali fasilitas
- fasilitas pabrikasinya dan kejadian - kejadian yang memicu proses Produksi
berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisonal
memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over produksi daripada
produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu munculah ide
Just In Time yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi
hanya akan memproduksi apabila diisyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai
akibatnya pemborosoan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa
perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Kedua hal tersebut
menjadikan perusahaan lebih kooperatif. Tujuan utama Just In Time adalah untuk
meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha
pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.
L. Mengenal
Sistem Produksi Tepat Waktu (Just In Tiime System)
1.
Sistem
Produksi Barat
Sistem produksi yang paling banyak dipakai saat ini adalah yang
berasal dari Eropa dan Amerika. Sistem produksi tersebut dikenal sebagai sistem
produksi western. Ciri-ciri dari sistem produksi ini antara lain:
- Melakukan
peramalan dalam menentukan kuantitas produksi,
- Melakukan
optimasi dalam penjadwalan produksi, penentuan kebutuhan bahan, penentuan
kebutuhan mesin, pekerja, dll.
- Terdapatnya
departemen pengendalian kualitas,
- Terdapatnya
gudang receiver dan gudang warehouse sebagai penyimpan persediaan, dll.
Secara garis besarnya adalah masih terdapatnya unsur- unsur
probabilistik dalam melakukan keputusan untuk masalah-masalah sistem
produksi. Filosofi dasar dari sistem produksi western adalah bagaimana
mengoptimalkan unsur-unsur sistem produksi yang tersedia. Hal ini
memungkinkan karena negara-negara barat waktu itu masih memiliki resources yang
cukup banyak.
Pada
tahun 1970-an terjadi krisis minyak bumi yang sangat mempengaruhi
industri-industri barat sebagai consumer terbesar. Sedangkan Jepang tidak
begitu terpengaruh krisis tersebut karena Jepang sudah biasa hemat dalam
menggunakan resources khususnya minyak bumi. Akibatnya industri-industri barat
mengalami kemerosotan sedangkan sebaliknya di Jepang justru mulai muncul.
Pada
tahun 1980-an sistem produksi jepang mulai menunjukkan keunggulan-keunggulannya
sedangkan barat justru baru mulai merekonstruksi dan merestrukturisasi sistem
produksinya baik melalui teknik-teknik produksinya maupun manajemennya. Pada
tahun 1990-an Jepang nampak berkembang pesat dan jauh meninggalkan Eropa
ataupun Amerika.
2.
Sistem
Produksi Jepang
Sistem produksi Jepang dikenal dengan nama Sistem Produksi
Tepat-Waktu (Just In Time). Filosofi dasar dari sistem produksi jepang (JIT)
adalah memperkecil ke mubadziran (Eliminate of Waste). Bentuk kemubadziran
antara lain adalah:
- Kemubadziran
dalam Waktu, misalnya ada pekerja yang
menganggur (idle time), mesin yang menganggur, waktu transport dalam
pabrik tidak efisien, jadwal produksi yang tidak ditepati, keterlambatan
material, lintasan produksi yang tidak seimbang sehingga terjadi
bottle-neck, terlambatnya pengiriman barang, banyak-nya karyawan yang
absen, dsb.
- Kemubadziran
dalam Material, misalnya
terlalu banyak buangan (scraps, chips) akibat proses produksi, banyak
terjadi kerusakan material atau material dalam proses, banyaknya material
yang hilang, material yang usang, nilai material yang menurun akibat
terlalu lama disimpan, dll.
- Kemubadziran
dalam Manajemen, misalnya
terlalu banyak karyawan kantor, banyak terjadi mis-informasi antar
departemen, banyaknya overlapping dalam penugasan, pelaksanaan tugas yang
tidak efektif, sulit dalam koordinasi, dll. Jepang melakukan eliminate of
waste karena jepang tidak punya resources yang cukup. Jadi dalam setiap
melakukan pengambilan keputusan terutama untuk masalah produksi selalu
menganut kepada prinsip efisiensi, efektifitas dan produktivitas.
Untuk dapat melaksanakan eliminate waste Jepang melakukan
strategi sebagai berikut:
- Hanya
memproduksi jenis produk yang diperlukan.
- Hanya
memproduksi produk sejumlah yang dibutuhkan.
- Hanya
memproduksi produk pada saat diperlukan.
M. Keuntungan
Dan Kelemahan Sistem Just In Time
- Keuntungan
JIT antara lain:
- Seluruh
system yang ada dalam perusahaan dapat berjalan lebih efisien.
- Pabrik
mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk memperkerjakan para stafnya.
- Barang
produksi tidak harus selalu di cek, disimpan atau diretur kembali.
- Kertas
kerja dapat lebih simple.
- Penghematan
yang telah di lakukan dapat digunakan untuk mendapat profit yang lebih
tinggi misalnya, dengan mengadakan promosi tambahan.
- Kelemahan
JIT
Satu kelemahan sistem JIT adalah
tingkatan order ditentukan oleh data permintaan historis. Jika permintaan naik
melebihi dari rata-rata perencanaan historis maka inventori akan habis dan akan
mempengaruhi tingkat pelayanan konsumen.
N. Perbandingan
Sistem Just Intime Dengan Sistem Tradisional
|
JIT |
TRADISIONAL |
|
|
- Sistem
tarikan dibanding sistem dorongan
Sistem tarikan adalah
system penentuan aktivitas-aktivitas berdasar atas permintaan konsumen, baik
konsumen internal maupun konsumen eksternal. Sebagai contoh dalam perusahaan
pemanufakturan permintaan konsumen melalui aktivitas penjualan menentukan aktivitas
produksi, dan aktivitas produksi menentukan aktivitas pembelian.System dorongan
adalah system penentuan aktivitas-aktivitas berdasar dorongan
aktivitas-aktivitas sebelumnya. Pembelian bahan melalui aktivitas pembelian
mendorong aktivitas produksi, dan aktivitas produksi mendorong aktivitas
penjualan.
- Persediaan
tidak signifikan dibanding persediaan signifikan
Karena JIT menggunakan
system tarikan maka dapat mengurangi persediaan menjadi tidak signifikan atau
sangat sedikit dan bahkan mencita-citakan nol. Sebaliknya, dalam system
tradisional, karena menggunakan system dorongan maka persediaan jumlanya
signifikan sebagai akibat jumlah bahan yang dibeli melebihi kebutuhan produksi,
jumlah produk yang diproduksi melebihi permintaan konsumen dan perlu adanya
persediaan penyangga. Persediaan penyangga diperlukan jika permintaan konsumen
melebihi jumlah produksi dan jumlah bahan yang digunakan untuk produksi
melebihi jumlah bahan yang dibeli.
- Basis
pemasok sedikit dibanding basis pemasok banyak
JIT hanya menggunakan
pemasok dalam jumlah sedikit untuk mengurangi atau mengeliminasi
aktivitas-aktivitas tidak bernilai tambah, memperoleh bahan yang bermutu tinggi
dan berharga murah. Sedangkan system tradisioanl menggunakan banyak pemasok
untuk memperoleh harga yang murah dan mutu yang baik, tapi akibatnya banyak
aktivitas-aktivitas tidak bernilai tambah dan untuk memperoleh harga yang lebih
murah harus dibeli bahan dalam jumlah yang banyak atau mungkin dengan mutu yang
rendah.
- Kontrak
jangka panjang dibanding kontrak jangka pendek
JIT menerapkan kontrak
jangka panjang dengan beberapa pemasoknya guna membangun hubungan baik yang
saling menguntungkan sehingga dapat dipilih pemasok yang memasok bahan berharga
murah, bermutu tinggi, berkinerja pengiriman tepat waktu dan tepat jumlah serta
dapat mengurangi frekuensi pemesanan. Sedangkan tradisional menerapkan
kontrak-kontrak jangka pendek dengan banyak pemasok sehingga untuk memperoleh
harga murah harus dibeli dalam jumlah yang banyak atau mungkin mutunya rendah.
- Struktur
seluler dibanding struktur departemen
Struktur seluler dalam JIT
adalah pengelompokan mesin-mesin dalam satu keluarga, biasanya kedalam struktur
semilingkaran atau huruf “U” sehingga satu sel tertentu dapat digunakan untuk
melakukan pengolahan satu jenis atau satu keluarga produk tertentu secara
berurutan. Setiap sel pemanufakturan pada dasarnya merupakan pabrik mini atau
pabrik di dalam pabrik. Penggunaan struktur seluler ini dapat mengeliminasi
aktivitas, waktu, dan biaya yang tidak bernilai tambah. Sedangkan
struktur departemen dalam system departemen adalah struktur pengolahan produk
melalui beberapa departemen produksi sesuai dengan tahapan-tahapannya dan
memerlukan beberapa departemen jasa yang memasok jasa bagi departemen produksi.
Akibatnya struktur departemen menimbulkan aktivitas-aktivitas serta waktu dan
biaya-biaya tidak bernilai tambah dalam jumlah besar.
- Karyawan
berkeahlian ganda dibanding karyawan terspesialisasi
System JIT yang
menggunakan system tarikan waktu “bebas” harus digunakan oleh karyawan struktur
seluler untuk berlatih agar berkeahlian ganda sehingga ahli dalam berproduksi
dan dalam bidang-bidang jasa tertentu misalnya pemeliharaan pencegahan,
reparasi, setup, inspeksi mutu. Sedangkan pada system tradisional system
karyawan terspesialisasi berdasarkan departemen tempat kerjanya misalnya
departemen produksi atau departemen jasa. Karyawan pada departemen jasa
terspesialisasi pada aktivitas penangan bahan, listrik, reparasi, dan
pemeliharaan, karyawan pada departemen produksi terspesialisasi pada aktivitas
pencampuran, peleburan, pencetakan, perakitan, dan penyempurnaan.
- Jasa
terdesentralisasi dibanding jasa tersentralisasi
System tradisional
mendasarkan pada system spesialisasi sehingga jasa tersentralisasi pada
masing-masing departemen jasa. Sedangkan pada system JIT jasa terdesentralisasi
pada masing-masing struktur seluler, para karyawan selain selain ditugaskan
untuk berproduksi tapi juga harus ditugaskan pada pekerjaan jasa yang secara
langsung mendukung produksi si struktur selulernya.
- Keterlibatan
tinggi dibanding keterlibatan rendah
Dalam system tradisional,
keterlibatan dan pemberdayaan karyawan relative rendah karena karyawan
fungsinya melaksanakan perintah atasan. Sedangkan dalam system JIT manajemen
harus dapat memberdayakan para karyawannya dengan cara melibatkan mereka atau
member peluang pada mereka untuk berpartisipasi dalam manajemen organisasi.
Menurut pandangan JIT, peningkatan keberdayaan dan keterlibatan karyawan dapat
meningkatkan produktviitas dan efisiensi biaya secara menyeluruh. Para karyawan
dimungkinkan untuk membuat keputusan mengenai bagaimana pabrik beroperasi.
- Gaya
pemberi fasilitas dibanding gaya pemberi perintah
System tradisional umumnya
menggunakan gaya manajemen sebagai atasan karena fungsi utamanya adalah
memerintah para karyawannya untuk melaksanakan kegiatan. Sedangkan pada system
JIT memerlukan keterlibatan karyawan sehingga mereka dapt diberdayakan, maka
gaya maanjemen yang cocok adalah sebagai fasilitator dan bukanlah sebagai
pemberi perintah.
- TQC
dibanding AQL
TQC (Total Quality
Control) dalam JIT adalah pendekatan pengendalian mutu yang mencakup seluruh
usaha secara berkesinambungan dan tiada akhir untuk menyempurnakan mutu agar
tercapai kerusakan nol atau bebas dari kerusakan. Produk rusak haruslah
dihindari karena dapat mengakibatkan penghentian produksi dan ketidakpuasan
konsumen.AQL (Accepted Quality Level) dalam system tradisional adalah
pendekatan pengendalian mutu yang memungkinkan atau mencadangkan terjadinya
kerusakan namun tidak boleh melebihi tingkat kerusakan yang telah ditentukan
sebelumnya.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Just In Time merupakan
integrasi dari serangkaian aktivitas desain untuk mencapai produksi volume
tinggi dengan menggunakan minimum persediaan untuk bahan baku, WIP, dan produk
jadi. Dalam system Just In Time (JIT), aliran kerja dikendalikan oleh
operasi berikut, dimana setiap stasiun kerja (work station) menarik output dari
stasiun kerja sebelumnya sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan kenyataan ini,
sering kali JIT disebut sebagai Pull System (system tarik). Dalam system JIT,
hanya final assembly line yang menerima jadwalproduksi, sedangkan semua stasiun
kerja yang lain dan pemasok (supplier) menerima pesanan produksi dari subkuens
operasi berikutnya. Dengan kata lain, stasiun kerja sebelumya (stasiun kerja 1
) menerima pesananproduksi dari stasiun kerja berikutnya (stasiun kerja 2 ),
kemudian memasok produk itu sesuai kuantitas kebutuhan pada waktu yang
tepatdengan spesifiksai yang tepat pula.
Daftar Pustaka
- Hansen, Don.R. dan Maryanne M.Mowen. 1995.
Akuntansi Manajemen . Jakarta: Erlangga.
- Simamora, Henry. 1999. Akuntansi
Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.
- Supriyono, Drs.R.A, Akuntan.
1999. Manajemen Biaya-Suatu Reformasi Pengelolaan Bisnis. Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta.
- Wicaksono, Armanto. 2006. Akuntansi
Biaya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Komentar
Posting Komentar