Give me Chance
PART 1 π·
Marrys, dia seseorang yang pendiam, dia adalah anak terakhir dari keluarga yang biasa biasa saja, dia terlahir dari seorang ibu koki desa "memasak hanya ketika dipanggil hajatan tetangga atau teman sedesanya" dan ayah kerja sekadarnya. Dengan empat kakak yang selalu mendukung dirinya, entah materi atau kasih sayang.
Marrys adalah tipe anak manja,dia enggan makan kalau bukan ibunya yang menyiapkan.
"Ibu... Dimanaa?" Tanya Marrys setiap sepulang sekolah.
Lantas mencarinya ketetangga sebelah memastikan ibunya harus ia temui. Setiap tidur dia selalu memeluk ibunya, selalu disampingnya merangkulkan tangannya diperutnya. Dan merasakan nafas ibunya melalui perutnya yang naik turun. Dia takut kehilangan.
"Ibu... Dimanaa?" Tanya Marrys setiap sepulang sekolah.
Lantas mencarinya ketetangga sebelah memastikan ibunya harus ia temui. Setiap tidur dia selalu memeluk ibunya, selalu disampingnya merangkulkan tangannya diperutnya. Dan merasakan nafas ibunya melalui perutnya yang naik turun. Dia takut kehilangan.
"Bu.. Temani marrys yaa,, sampe marrys nanti nikah, marrys takut sendiri" Ia selalu mengucapkan hal itu sebelum tidur.
Dia bersekolah disalah satu sekolah negeri di kotanya, jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Dia berangkat menggendarai angkutan umum bersama teman seperjuangannya. Setiap pagi dia bersepeda menghampiri temannya yang dekat dengan gang besar tempat angkutan umum mangkal, lalu menitipkan sepedanya dirumah kerabatnya itu, sebut saja pahlawan pangkalan sepeda merrys itu yulita. Lalu berangkatlah mereka berdua dengan angkutan umum. Susah.... Jauh... Lelah... Dirasakan marrys waktu itu. Lantas apa yang membuatnya begitu semangat. Keinginan ibunya anaknya tetap bersekolah di sekolah negeri karna jaminan masuk Perguruan Tinggi Negeri sangat luas, biaya pun lumayan ringan dibandingkan sekolah swasta . apalagi sekolah merrys adalah salah satu sekolah favorit di kota itu. Sejauh apapun itu ia berusaha berangkat entah hujan, banjir seringkali terjadi tiap tahunnya.
Kala itu, marrys masuk kelas 2 SMA , ibunya jatuh sakit. Beberapa kali masuk rumah sakit dan di diagnosa sakit Hipertensi dan gula darah yang tinggi. Itu terjadi setelah ibunya memasak disalah satu hajatan saudaranya. Waktu itu ibu merrys tidak begitu sehat, akan tetapi mendapat orderan dari salah satu saudara dekatnya . Terpaksa menerima tawaran masak di saudaranya itu. Ibunya memang sudah lama mengidap hipertensi, akan tetapi tidak separah ini. Hari ini pusing besok pun sudah kembali tertawa bersama. Tapi entah kenapa kali ini ibunya terlihat tidak dapat bangun dan makanpun susah. Sekolah sudah tidak bisa lagi marrys tinggalkan. Waktu itu jam 6.00 pagi ia harus berat hati meninggalkan ibunya yang sedang sakit dikamarnya. Ia hendak berpamitan, akan tetapi ibunya masih terlelap tidur. Ia enggan membangunkan ibunya itu.
Bahkan uang saku pun ia tak berani meminta, sisa kemarin ia gunakan.
Kala itu, marrys masuk kelas 2 SMA , ibunya jatuh sakit. Beberapa kali masuk rumah sakit dan di diagnosa sakit Hipertensi dan gula darah yang tinggi. Itu terjadi setelah ibunya memasak disalah satu hajatan saudaranya. Waktu itu ibu merrys tidak begitu sehat, akan tetapi mendapat orderan dari salah satu saudara dekatnya . Terpaksa menerima tawaran masak di saudaranya itu. Ibunya memang sudah lama mengidap hipertensi, akan tetapi tidak separah ini. Hari ini pusing besok pun sudah kembali tertawa bersama. Tapi entah kenapa kali ini ibunya terlihat tidak dapat bangun dan makanpun susah. Sekolah sudah tidak bisa lagi marrys tinggalkan. Waktu itu jam 6.00 pagi ia harus berat hati meninggalkan ibunya yang sedang sakit dikamarnya. Ia hendak berpamitan, akan tetapi ibunya masih terlelap tidur. Ia enggan membangunkan ibunya itu.
Bahkan uang saku pun ia tak berani meminta, sisa kemarin ia gunakan.
Dengan menggunakan sepeda lantas dia pergi ke rumah yulita, dan berangkat bersama. Hari itu tampak biasa biasa saja, mawar tetap berbau harum, langit membiru, jalanan ramai lancar.
Jam 10.00 siang hari kamis.
Sekolah dipulangkan secara mendadak, perasaan senang sudah tak terhingga terpancar dari murid murid malas. Sorak sorak rapat guru menggema.
"Tau gini ga mau berangkat aku" Sesal marrys
"Lumayan 4000 ribu ku ga kesita" Tambahnya lagi.
"Lumayan 4000 ribu ku ga kesita" Tambahnya lagi.
Naik angkot waktu itu 4000 ribu pulang pergi. Ia pun pulang ditengah waktu yang sangat luang itu, ia hendak mampir disalah satu rumah temannya "nikmah"
"Sesekali lah main,,pumpung pulang gasik" Ucap salah satu genk kol (teman teman sejalan yang naik angkot bareng, personilnya 4 orang)
"Sesekali lah main,,pumpung pulang gasik" Ucap salah satu genk kol (teman teman sejalan yang naik angkot bareng, personilnya 4 orang)
Dia pun tak enak untuk menolak, lagi pula pulang jam 12 masih mempunyai waktu yang banyak untuk beberes dirumah, 2 jam ngumpul tidak apa apa pikir marrys.
Jam 10.15
Sampai dirumah nikmah yang tidak terlalu jauh dari rumah yulita. Ngobrol asik, tertawa , snack , tea jus melati, adalah makanan dan minuman anak jamannya. Ada saja hal yang dibicarakan waktu itu.
Sampai dirumah nikmah yang tidak terlalu jauh dari rumah yulita. Ngobrol asik, tertawa , snack , tea jus melati, adalah makanan dan minuman anak jamannya. Ada saja hal yang dibicarakan waktu itu.
Kring...kring...
"Halo" Nikmah menjawab
"........." Teman nikmah
"Apa iyaa" Wajah nikmah agak
berubah
berubah
"......."
"Iya,nanti tak sampein" Tutupnya
Nikmah kembali bergabung bersama kami. Tapi nampak wajah yang berbeda.
"Yam, ibu kamu ga ada " Ucap nikmah
"Ga ada dirumah pok? Dirumah sakit?" Marrys agak bingung,
"Ga ada " Ucapnya lagi
"Gimana sih maksutnya, kalo dirumah sakit, ntar aq nyusul abis ini" Jawabnya santai
"Meninggal " Balas nikmah
".........,...." Diam
"Aku anter ya kerumahmu " Jawab nikmah dan yulita
" Ga usah , aku mau ambil sepeda saja dirumahmu yul" Masih ga percaya
Setelah mengambil sepeda, Marrys hendak diantar temannya. Tapi dia menolaknya. Dan bergegas mengayuh sepedanya kuat kuat.
Keluar dari gang, air mata tidak percaya menetes. Ia menolak, ini bukan dirinya, ini bukan beritanya, ini bukan saatnya, tidak mungkin , ini info salah , ini mimpi , ini berita bohong.
Menangis dijalan . Menyalahkan takdir.
Menangis dijalan . Menyalahkan takdir.
Sesampai dirumah keadaan ramai kerabat. Ia bergegas masuk kamarnya menjatuhkan dirinya dikamar kesayangannya. Berharap ibunya memeluknya, menenangkannya, menanyai kabarnya. Menawarinya makan siang,,,
Ia menangis sejadi jadinya. Tangannya kram menahan amarah yang terdalam. Tak lama kakaknya datang menuntunnya keluar kamar dengan badan lemas.
Ia menangis sejadi jadinya. Tangannya kram menahan amarah yang terdalam. Tak lama kakaknya datang menuntunnya keluar kamar dengan badan lemas.
"Sabarrr" Kakanya memelas
"Masih ada kakak kakak kamu" Balas salah satu kakanya lagu
"Engga,,, aku butuh ibu,, ga mau..maunya ibu.. Tadi ibu masih ada dikamar .. Ga itu bukan ibu yang meninggal " Batin marrys menolaknya
Dituntunnya dia ke pemandian ibunya.
πππππππ
Tangisaan hanya tangisan..
"Ya Allah, tidak kah kasihan kepadaku. Kenapa ibuku ππ"
Melihat ibunya terbaring tanpa nyawa, dimandikan , senyumnya pudar, matanya tertutup, pucat , perutnya tidak naik turun, dia tidak memanggil namanya.
"Ibuuuuuuuuu πππππππ"
Ya Allah give me Chance.
Aku ingin melihat ibuku ada diwisuda sekolahku.
Aku ingin memeluk ibuku tiap malam.
Jangan ambil dia.
Ambil saja aku.
Aku sepi
Aku sendiri
Aku putus asaa
Aku ingin melihat ibuku ada diwisuda sekolahku.
Aku ingin memeluk ibuku tiap malam.
Jangan ambil dia.
Ambil saja aku.
Aku sepi
Aku sendiri
Aku putus asaa
"TUNGGU CERITA KELANJUTANYA"
Komentar
Posting Komentar